Wartawan Gerilya China Mengisi Celah Dalam Narasi Media Negara Tentang Peristiwa Tianjin

Oleh: Leo Timm dan Jenny Li
27 Agustus 2015
Sumber: www.theepochtimes.com

Sementara para pemadam kebakaran melawan kobaran api pasca dua ledakan besar di kota pelabuhan Tianjin pada 12 Agustus, sensor internet Partai Komunis berusaha memadamkan semua ulasan dan berita di luar kendali negara.

Para penyelamat berseragam hazmat di lokasi ledakan di Tianjin, China, dalam foto tak bertanggal. (Liu Yanmin/WeChat)
Para penyelamat berseragam hazmat di lokasi ledakan di Tianjin, China, dalam foto tak bertanggal. (Liu Yanmin/WeChat)

Tapi di zaman ponsel pintar dan masyarakat China yang terberanikan, mereka tidak mampu bertindak cukup cepat: lowong yang diisi oleh media resmi pasca ledakan segera dipenuhi oleh suara-suara massa, yang memotret, merekam, menganalisa, dan mengabarkan bencana menganga.

Logam leleh tercecer dari mobil-mobil terbakar di lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015. (He Xiaoxin/WeChat)
Logam leleh tercecer dari mobil-mobil terbakar di lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015. (He Xiaoxin/WeChat)
Para wartawan dekat lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015. (He Xiaoxin/WeChat)
Para wartawan dekat lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015. (He Xiaoxin/WeChat)

Sebagian besar dari jurnalisme tak resmi ini dipublikasikan lewat WeChat, aplikasi media sosial populer China yang memungkinkan individu (dan perusahaan) membuat akun kemasyarakatan yang dapat dilanggani oleh pengguna lain. Dengan memakai teknologi ini saja, orang-orang di lokasi, entah mereka wartawan dengan kantor media mapan yang bertindak nakal, atau warga yang berbuat karena rasa kewajiban publik, melangkaui kendali ketat Partai atas informasi.

Lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015. (He Xiaoxin/WeChat)
Lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015. (He Xiaoxin/WeChat)
Personil keamanan memblokir lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015. (He Xiaoxin/WeChat)
Personil keamanan memblokir lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015. (He Xiaoxin/WeChat)

Mereka berusaha menjawab sebagian pertanyaan paling mendesak pasca ledakan, seperti: Mengapa ada 700 ton sodium sianida di gudang tersebut? Bagaimana proses penjagaan untuk amonium nitrat sebanyak itu, bahan pedak di bawah kondisi seperti itu? (Ledakan kedua pada 12 Agustus itu konon berkekuatan 21 ton TNT. Mengakibatkan 116 tewas.) Mengapa bangunan perumahan begitu dekat? Tidak semua pertanyaan terjawab, tapi upaya penutup-nutupan oleh pihak berwenang, dan tekad jurnalis warga, membantu menyingkap lebih banyak fakta.

“Satu kata—Chernobyl!”

Pagi hari usai ledakan, He Xiaoxin, wartawan Beijing Daily yang dikelola negara, mengadakan perjalanan kurang-lebih 100 mil dari Beijing ke Tianjin untuk meliput peristiwa. Menghindari garis polisi dengan menyusup ke sela semak-belukar, foto-foto close-up dan deskripsi yang diunggah ke akun WeChat-nya sepanjang hari itu memperoleh daya tarik seketika di kalangan warganet yang ingin tahu taraf kerusakan sesungguhnya.

Lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015. (He Xiaoxin/WeChat)
Lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015. (He Xiaoxin/WeChat)
Beruang tedi di lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015, dijepret oleh wartawan yang menyelinap ke balik blokade polisi. (He Xiaoxin/WeChat)
Beruang tedi di lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015, dijepret oleh wartawan yang menyelinap ke balik blokade polisi. (He Xiaoxin/WeChat)

Foto-foto dan ulasan He Xiaoxin mengungkap blok-blok apartemen remuk, upaya berkelanjutan dari pemadam kebakaran untuk mematikan kobaran kimiawi, logam leleh yang keluar dari bangkai-bangkai mobil gosong di permukaan tanah panas membakar, dan kedatangan pasukan dalam seragam biokimia yang dikirim dari Beijing untuk mengendalikan situasi.

Bangunan hancur di lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015, dijepret oleh wartawan yang menyelinap ke balik blokade polisi. (He Xiaoxin/WeChat)
Bangunan hancur di lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015, dijepret oleh wartawan yang menyelinap ke balik blokade polisi. (He Xiaoxin/WeChat)
Mobil hancur di lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015, dijepret oleh wartawan yang menyelinap ke balik blokade polisi. (He Xiaoxin/WeChat)
Mobil hancur di lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015, dijepret oleh wartawan yang menyelinap ke balik blokade polisi. (He Xiaoxin/WeChat)

“Ini seperti neraka dunia. Saya hanya terpikir satu kata—Chernobyl!” tulis He Xiaoxin dalam pos WeChat-nya, yang kemudian diterjemahkan dan disediakan secara luas di internet.

“Para pemadam tak sanggup mematikan api. Cuma beberapa orang yang tersisa, dan kebanyakan dari mereka menunggu perintah,” tulis He.

Wartawan lain dicegat oleh polisi dan disingkirkan dari TKP. Sejenak kemudian, bencana Tianjin menjadi “topik sensitif” yang tak boleh lagi diberitakan oleh semua media: itu akan ditangani secara eksklusif oleh Xinhua, corong berita rezim China.

Tapi pekerjaan He Xiaoxin dan lainnya diapresiasi oleh khalayak. Sopir taksi mereka, begitu mendengar mereka sedang meliput bencana tersebut, membebaskan ongkos taksi. “‘Kalian sudah berbuat banyak,’ ujarnya. Tapi tetap kami bayar.”

Sensor yang Dipaksakan Polisi

Gara-gara pemberangusan pers, penduduk Tianjin dibombardir dengan drama Korea ketika menyetel televisi, alih-alih wawancara dan program berita investigatif yang meliput bencana.

“Selain rilis resmi, hampir tak ada yang diberitakan,” bunyi sebuah pos oleh “TaXiangYiKe@TXYiKe”, pengguna Twitter asal China. “Tak ada siaran langsung, tak ada wawancara. …Di Barat, insiden sebesar itu akan dikerubungi wartawan di TKP. Tapi di China, para wartawan Barat justru dikepung. …China selangkah lebih mirip dengan Korea Utara.”

Sementara video dan foto ledakan yang menggoncang wilayah pelabuhan Tianjin menyebar di internet, pergumulan cepat antara blogger dan sensor negara meletus, di mana setiap pihak berlomba memposting dan menghapus. Sebagian warganet ditahan dan lusinan situs ditutup lantaran “menyebar rumor”, warta Radio Free Asia.

Blogger Sun Junbin, memposting di akun WeChat “White Horse V Perspective”, menggambarkan gangguan yang dialaminya ketika berurusan dengan aparat penegak hukum yang mengawal lokasi bencana. Sun dan timnya ditangkap dua kali dan dikirim ke pos polisi setempat, yang sudah rusak parah oleh ledakan.

Mobil rusak dekat lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015, dijepret oleh wartawan yang menyelinap ke balik blokade polisi. (He Xiaoxin/WeChat)
Mobil rusak dekat lokasi ledakan di Tianjin, China, 13 Agustus 2015, dijepret oleh wartawan yang menyelinap ke balik blokade polisi. (He Xiaoxin/WeChat)
Lokasi ledakan di Tianjin, China, 14 Agustus 2015. (STR/AFP/Getty Images)
Lokasi ledakan di Tianjin, China, 14 Agustus 2015. (STR/AFP/Getty Images)

“Hari ini perdana menteri datang ke Tianjin, kau tidak tahu?” tanya seorang perwira pendek. “Kau membuat masalah!”

Hanya 3 perwira, dari 21 yang biasanya tersedia, berada di pos rusak itu ketika Sun sampai di sana. Itu cuma berjarak 200 meter dari ground zero. Selebihnya terluka atau masih hilang.

Meski media yang dikelola negara mengklaim korban tewas 116 orang, ratusan pekerja, pemadam, dan personil lain belum diperhitungkan, nasib mereka tampaknya diabaikan oleh pers resmi.

Pada 17 Agustus, Sun Junbin pergi ke Petition Office of Binhai New Area, di mana bencana melanda, guna mewawancarai orang-orang yang kehilangan apartemen dan harta-benda. Beberapa petugas polisi terus memantau para wartawan.

Seorang pria yang terluka memegang foto rumahnya yang hancur. Dia bergabung dengan orang-orang yang berunjuk rasa di luar hotel di mana pihak berwenang sedang mengadakan konferensi pers di Tianjin, China, 16 Agustus 2015. (STR/AFP/Getty Images)
Seorang pria yang terluka memegang foto rumahnya yang hancur. Dia bergabung dengan orang-orang yang berunjuk rasa di luar hotel di mana pihak berwenang sedang mengadakan konferensi pers di Tianjin, China, 16 Agustus 2015. (STR/AFP/Getty Images)

Kepolisian tidak terlalu antusias dengan tugas mereka, catat Sun.

“Ketika orang-orang pergi, saya duduk di lobi. Seorang polisi yang terus-terusan memelototi saya lantas duduk dan bertanya apakah saya memang wartawan. Saya jawab ya. Dia cemberut dan berkata, ‘Well, kau bisa saja bilang bukan. Tadinya [polisi] akan pergi beberapa menit lagi.’”

“Saya jadi paham,” tulis Sun.

“Siapa yang memenangkan Perang Berita?”

Wen Yunchao, aktivis HAM dan blogger bermarkas di New York yang beremigrasi demi melarikan diri dari pihak berwenang, menulis sebuah artikel berjudul “Siapa yang Memenangkan Perang Berita?” yang dia publikasikan di akun Google+ miliknya.

“[Pasca pemberangusan pers] bahkan para wartawan dari media kelolaan negara menunjukkan kemarahan mereka. Amarah ini menyampaikan sinyal. Yakni, kami juga bisa marah,” tulis Wen.

Wen percaya, warganet dan jurnalis tak resmi telah memanfaatkan kendaraan media sosial dan situs blog dalam menghindari larangan pers dan sensor rezim.

Menanggapi pertanyaan yang disampaikan ke akun Twitter-nya oleh reporter Epoch Times, Wen menulis bahwa informasi tersiar “ketika kecepatan sebaran berita melampaui kecepatan sensor dan penghapusan.”

“Pada saat pihak berwenang memahami kepelikan sebuah peristiwa,” tulis Wen, “beritanya sudah tersebar luas.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s