Oleh: Matthew Rozsa / Salon.com
24 Januari 2017
Sumber: AlterNet.org

Laporan menunjukkan, untuk memahami perilaku tak menentu sang presiden, Anda harus pahami kecanduannya pada media.

Kredit foto: Albert H. Teich / Shutterstock.com
Kredit foto: Albert H. Teich / Shutterstock.com

Presiden Donald Trump terobsesi dengan media—mengkonsumsinya, menanggapinya, dan dilukiskan secara positif olehnya. Obsesi itu lahir bukan hanya dari egotisme tapi, seperti diungkap laporan-laporan terbaru, oleh fiksasi (konsep dalam psikologi manusia yang dicetuskan oleh Sigmund Freud untuk menandakan ketahanan ciri-ciri seksual anakronistik—penj) tak terkendali terhadap mereka. Istilah “kecanduan” tidak dipakai secara harfiah di sini, tapi bila membaca kebiasaan konsumsi medianya, sulit sekali memikirkan istilah pengganti yang pas.

“Salinan cetak tiga suratkabar,” tulis Mike Allen dan Jim VandeHei dari Axios dalam sebuah artikel pada hari Selasa yang menjelaskan kebiasaan media sang presiden. “Ketika Billy Bush tampil, Access Hollywood setiap malam. TiVo di pagi hari dan acara berita malam agar dia bisa nonton berita teratas mereka semua. Selalu 60 Minutes. Sering Meet the Press. Banyak radio wicara New York.”

Allen dan VandeHei juga menyampaikan bahwa Trump tidak baca buku dan menghindari laporan dan pembekalan yang dianggapnya terlalu panjang. Namun bukan berarti Trump keranjingan teknologi maju—dia tak memakai komputer dan jarang menggunakan telepon untuk apapun selain panggilan. Bahkan cuitan-cuitan kejinya seringkali didiktekan dan lalu diposkan oleh orang lain. Dia tak mengikuti corong berita daring, justru lebih memilih corong tradisional termasuk suratkabar seperti The New York Times dan The New York Post (yang kata teman adalah “suratkabar acuan untuknya”) dan acara-acara jurnalistik semisal 60 Minutes.

Dia terutama terobsesi dengan TV.

Hampir setiap pagi Trump menyalakan TV dan menonton Morning Joe, seringkali untuk waktu lama, kadang diselang dengan SMS kepada pembawa acara atau panelis. Lewat jam 6, setelah Morning Joe, dia sering beralih ke Fox & Friends menjelang jam 7, dengan sedikit CNN sebelum atau sesudahnya. Dia juga menangkap acara-acara Minggu, khususnya Meet the Press. “Acara-acara itu,” sebagaimana dia menyebut mereka, sering menghasut cuitannya. Di hari wawancara kami dengannya, semua topik cuitannya dibahas selama dua jam pertama Morning Joe.

Memang, ketergantungan emosional Trump pada liputan positif TV telah mengakibatkan beberapa kekeliruan paling awal dalam masa kepresidenannya.

Hari Sabtu, saat melihat jaringan TV membandingkan jumlah kehadiran di pelantikannya yang hangat-hangat kuku dengan penampilan Obama yang jauh lebih mengesankan pada 2009, dia berang sekali sampai-sampai para penasehat tak mampu meyakinkannya untuk mengabaikan liputan negatif atau menanggapi saja di Twitter, menurut The Washington Post Senin. Dia justru meminta Sekretaris Pers Sean Spicer agar mengecam liputan negatif tersebut, dan terlepas dari kritik luas bahwa Spicer sudah melewati batas dengan berdusta terang-terangan perihal pelantikan Trump (atau Kellyanne Conway sebut kemudian sebagai “fakta alternatif”), keluhan utama Trump adalah Spicer terlalu mengandalkan pernyataan tercetak dan sikapnya belum cukup keras. Dia lebih senang dengan penampilan Spicer di hari Senin.

Tentang Penulis
Matthew Rozsa adalah penulis berita terkini untuk Salon. Dia memegang gelar MA bidang Sejarah dari Rutgers University, Newark, dan karyanya telah dimuat di Mic, Quartz, dan MSNBC.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s