Media Alternatif Terus Terapkan Jurnalisme Kuning Untuk Rusia

Oleh: Brandon Martinez
24 Agustus 2016
Sumber: NonAlignedMedia.com

Garis pertempuran telah ditarik: kekuatan-kekuatan otoriter seperti Rusia dan China adalah bagian dari poros “juru selamat” “topi putih” BRICS, sementara “Atlantisis” Barat adalah bagian hakiki dari koalisi “iblis” “topi hitam” jahat.

Joseph Putin
Joseph Putin

Dialektika hitam-putih Perang Dingin ini—sebagian besar adalah gagasan “media alternatif” dan bukan mainstream—tergambar dengan jelas dalam peliputan keterlibatan Rusia di perang Suriah oleh individu dan situs yang mengaku “alternatif” tapi nyatanya menjalankan jurnalisme kuning untuk “blok Timur” baru.

Mari kita tinjau Suriah.

Koalisi Barat dan Rusia telah membunuh minimal 3.000 warga sipil Suriah plus Irak, menurut banyak laporan media. Kelompok-kelompok pemantau di lapangan menghitung hingga 2.000 korban sipil serangan udara Rusia sejak intervensi Kremlin akhir tahun lalu. Banyak dari mereka adalah wanita dan anak-anak yang terjebak di wilayah-wilayah yang diduduki pemberontak di mana pasukan Rusia disebut-sebut “sengaja mengebom wilayah sipil” dalam kampanye perang kilat “guna menebar ketakutan dan membersihkan wilayah di mana pasukan darat pemerintah berencana merangsek maju”.

Kampanye udara koalisi Barat yang jet-jetnya beroperasi di langit Suriah dan Irak telah menewaskan sekurangnya 1.000 warga sipil, kata kelompok pemantau. Pembantaian terbaru mereka diwartakan tak lama setelah serangan truk di Nice, Prancis, pada bulan Juli ketika pesawat-pesawat pengebom Prancis dan AS meresponnya dengan membunuh 140 warga sipil di kota Manbij, Suriah.

Corong-corong media “alternatif”, para cendekiawan, dan pengekor sangat gemar mengidentifikasi korban sipil oleh koalisi Barat, tapi tidak dengan mereka yang dibunuh oleh Rusia. Dalam berita-berita tentang perbuatan kelewatan Barat, tak ada cingcong seputar rincian pemberitaan, tidak ada kecurigaan terhadap objektivitas “sumber” yang memberikan informasi. Itu diterima begitu saja. Tapi para penulis upahan dan “gatekeeper” pro-Kremlin menampik semua liputan pelanggaran Rusia di perang Suriah dan menyebutnya “propaganda” dari Barat.

Propaganda Kremlin

Bias konfirmasi dalam pantomim media alternatif Kremlin justru semakin ekstrim. Sebagai contoh, guru konspirasi Jay Dyer berargumen—atau lebih tepatnya mengulang propaganda Kremlin—bahwa Rusia tidak menewaskan atau minimal tidak sengaja menewaskan satupun warga sipil di Suriah hingga hari ini. Dia berteori liar bahwa semua gambar, video, dan berita kematian sipil yang diakibatkan oleh pihak Rusia adalah “rekaan” “kurir intelijen Barat”. “Apa yang Rusia peroleh dengan menyerang warga sipil,” timbangnya, menerima tanpa bukti tapi tidak betul-betul membuktikan bahwa 2.000 korban sipil serangan Rusia tidak nyata. Pada hakikatnya Dyer berpendapat, siapapun yang memberitakan Rusia secara negatif berarti “bekerja untuk Barat” dan karenanya ditolak mentah-mentah dan tak dapat dipercaya. Tapi moralisme munafik perihal keobjektifan ini datang dari seorang pria yang terang-terangan bersimpati pada konservatisme Rusia-nya Putin dan akrab dengan tokoh ideolog eksepsionalisme Rusia, Alexander Dugin, dulu penasehat Putin.

Jikapun beberapa gambar dari Suriah digelar untuk “sesi foto” agar pihak Rusia/Assad tampak buruk (dan saya akui itu telah terjadi), tidak berarti segala sesuatu yang mencerminkan Rusia atau Assad secara buruk adalah rekaan. Benar bahwa orang-orang Palestina pun pernah menggelar [sandiwara] di depan kamera, tapi saya yakin guru “media alternatif” tidak akan memakai itu untuk memajukan argumen bahwa Israel tidak membunuh satupun orang Palestina.

Di samping itu, Dyer dan para apolog Kremlin lain tidak menerapkan pengertian keras yang sama atas laporan media tentang kekejaman Barat atau pemberontak bekingan Barat di zona konflik yang sama. Pengecekan sebanding juga tidak diterapkan pada pemberitaan media Barat tentang amukan dan kejahatan perang ISIS. Mengamati liputan pers Barat terkait Timur Tengah sejak 2014, fokus telah bergeser jelas dari anti-Assad ke anti-ISIS, bertepatan dengan pergeseran kebijakan nyata Barat dari “menyingkirkan Assad” ke “menghancurkan dan menghinakan ISIS”. Jadi, andai skeptisisme dan kecurigaan mereka diterapkan secara konsisten, maka semua liputan media Barat perihal kejahatan ISIS harusnya sama-sama ditolak oleh mereka sebagai fiksi perang. Tapi ini tidak kita saksikan.

Joseph Stalin
Joseph Stalin

Andai penulis-penulis upahan berbias ini jujur dan konsisten secara intelektual, maka mereka harus menolak semua pemberitaan media Barat di masa lalu yang, sebagai contoh, menyoroti pendanaan dan pemersenjataan Barat untuk pemberontak Islamis Suriah, semua liputan tentang perbuatan jahat koalisi Barat, semua pemberitaan kejahatan perang AS-Inggris dalam perang Irak, dan semua penggambaran kejahatan perang Israel dalam invasi Gaza terakhir. Sikap pilih-pilih ketat atas apa yang boleh dan tidak boleh dipercaya merupakan lambang perang informasi partisan yang sedang dilancarkan oleh corong-corong media alternatif berkompromi dan bermotif ideologi.

Apakah media besar Barat mencondongkan liputannya demi menyokong keinginan pemerintahan mereka masing-masing? Tentu saja. Haruskah kita skeptis dan waspada terhadap klaim dan narasi tertentu yang sedang dibiakkan? Sudah pasti. Begitu pula media Rusia semacam RT atas perspektifnya. Tapi corong-corong Rusia secara umum dielu-elukan oleh manusia-domba “media alternatif” sebagai sumber kabar terpercaya terlepas dari fungsi kentaranya sebagai juru bicara Kremlin.

Wartawan tak berpihak sejati atau bahkan penulis opini akan mengakui keniscayaan yang timbul di masa perang bertaraf besar di mana kedua pihak berbuat kelewatan, penganiayaan, dan kejahatan, kedua pihak melakukan “propaganda”, dan kedua pihak berbohong soal musuh mereka. Penurutan hobi “pilih tim” oleh media alternatif ini menunjukkan bahwa mereka secara umum tidak lebih baik dari sumber mainstream yang mereka kritisi. Di atas semua itu, banyak di antara media alternatif yang menunjukkan bahwa mereka bukan kelompok non-intervensionis atau penentang militerisme, tapi mereka menjadi kelompok demikian hanya ketika kekuatan “yang salah” beraksi.

Inilah alasan kenapa sebaiknya mendiversifikasi sumber dan tak pernah terlalu mengandalkan satu saluran informasi. Jelas ini bukan sesuatu yang bisa kita harapkan dari para pemikir tak beradab penghuni lingkungan media propaganda “alternatif” yang sedang melejit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s