Mengapa Saya Mundur Dari Telegraph

Oleh: Peter Oborne
17 Februari 2015
Sumber: www.opendemocracy.net

Peliputan HSBC dalam Telegraph Inggris merupakan penipuan terhadap para pembacanya. Jika koran-koran besar membolehkan korporasi mempengaruhi konten mereka karena takut kehilangan pendapatan iklan, maka demokrasi dalam bahaya.

Telegraph

Lima tahun silam saya diundang menjadi kepala pengulas politik di Telegraph. Itu pekerjaan yang akan saya terima dengan bangga. Telegraph sudah lama menjadi koran konservatif paling penting di Inggris, dikagumi atas integritasnya serta liputan beritanya yang hebat. Ketika saya bergabung, Telegraph baru saja membeberkan skandal pengeluaran para anggota parlemen, berita politik terpenting di abad 21.

Saya sadar sekali bahwa saya sedang bergabung dengan tradisi ulasan politik yang berat. Saya habiskan libur musim panas sebelum mengambil tugas sebagai kolumnis yang membaca esai-esai Peter Utley ternama itu, disunting oleh Charles Moore dan Simon Heffer, dua maestro lain.

Tak seorangpun pernah mengungkapkan kebajikan dan pragmatisme paham konservatif Inggris seapik Utley. Mail kasar dan populis, sedangkan Times bangga mengikuti angin sebagai suara kelas pejabat. Telegraph berdiri dalam tradisi beda. Ia dibaca oleh negeri ini secara keseluruhan, bukan cuma oleh Kota dan Westminster. Ia yakin dengan nilai-nilainya sendiri. Ia sudah lama terkenal akan akurasi pemberitaannya. Saya berkhayal para pembacanya adalah solisitor pedesaan, usahawan kecil yang berjuang keras, sekretaris kedua (second secretary) yang dilecehkan di kedutaan-kedutaan asing, guru sekolah, anggota militer, petani—orang-orang bajik yang punya perhatian pada negara ini.

Kakek saya, LetKol Tom Oborne DSO, adalah pembaca Telegraph. Dia juga churchwarden dan berperan di Petersfield Conservative Association. (Churchwarden adalah pegawai biasa di paroki atau kongregasi Komuni Anglikan—penj.) Dia punya rak khusus di meja sarapan dan biasa membaca koran ini dengan cermat sambil menyantap bakon dan telur, mencurahkan perhatian khusus pada para pemimpin. Saya sering memikirkan kakek saya saat menulis kolom-kolom Telegraph.

“Kau tak tahu apa yang sedang kau bicarakan”

Oplah sedang jatuh pesat ketika saya bergabung dengan koran tersebut pada September 2010, dan saya menduga ini membuat panik para pemilik. Gelombang pemecatan dimulai, dan manajemen berterus-terang bahwa mereka yakin masa depan pers Inggris adalah digital. Murdoch MacLennan, kepala eksekutif, mengundang saya makan siang di Goring Hotel dekat istana Buckingham, di mana para eksekutif Telegraph senang melakukan bisnis mereka. Saya memintanya untuk tidak meremehkan koran itu sendiri, menjelaskan bahwa oplahnya masih sangat sehat, lebih dari setengah juta. Saya menambahkan bahwa pembaca kami sangat setia, bahwa koran itu masih sangat menguntungkan dan para pemilik tak berhak melenyapkannya.

Pemecatan berlanjut. Tak lama kemudian saya bertemu Tn. MacLennan secara kebetulan dalam antrean pelayat di pemakaman Margaret Thatcher dan sekali lagi memintanya untuk tidak meremehkan pembaca Telegraph. Dia menjawab: “Kau tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan.”

Peristiwa-peristiwa di Telegraph jadi semakin mencemaskan. Pada Januari 2014, editor Tony Gallagher dipecat. Dia editor ulung, dihormati oleh staf. Tn. Gallagher diganti oleh seorang Amerika bernama Jason Seiken, yang mengisi posisi disebut “Kepala Konten”. Dalam 81 tahun antara 1923 dan 2004, Telegraph mempunyai enam editor, semuanya adalah tokoh tinggi: Arthur Watson, Colin Coote, Maurice Green, Bill Deedes, Max Hastings and Charles Moore. Sejak Barclay Bersaudara membeli koran tersebut 11 tahun lalu, sudah ada kira-kira enam editor lain, meski ini sulit dipastikan karena gelar editor ditiadakan, lalu diganti oleh Kepala Konten (Senin s/d Jumat), dengan datangnya Tn. Seiken. Pada 2014 saja ada tiga editor (atau Kepala Konten).

Selama 12 bulan terakhir keadaan semakin buruk. Bagian urusan luar negeri—yang bagus di bawah kepemimpinan David Munk dan David Wastell—telah dikurangi. Sebagaimana diketahui semua wartawan, tak ada suratkabar yang dapat beroperasi tanpa subeditor terampil. Separuh dari mereka telah dipecat, dan kepala subeditor Richard Oliver telah angkat kaki.

Kesalahan tatabahasa, yang tidak terbayangkan hingga belakangan ini, sekarang jadi lumrah. Baru-baru ini pembaca diperkenalkan kepada seseorang berjulukan Duke of Wessex. Pangeran Edward menjadi Earl of Wessex. Ada cerita halaman depan tentang perburuan kijang. Sebetulnya itu tentang penguntitan kijang, kegiatan yang berbeda jauh. Jelas manajemen tidak peduli dengan pembedaan seperti ini. Tapi pembaca peduli, dan selama ini Telegraph mau bersusah-payah meluruskan hal semacam ini.

Kedatangan Tn. Seiken bertepatan dengan kedatangan budaya klik. Artikel-artikel tidak lagi dinilai berdasarkan arti pentingnya, akurasinya, atau daya tariknya bagi pembeli suratkabar. Tampaknya ukuran lebih penting adalah jumlah kunjungan daring. Pada 22 September Telegraph daring memuat artikel tentang seorang wanita berpayudara tiga. Salah satu eksekutif yang pasrah bercerita kepada saya bahwa berita ini diketahui palsu bahkan sebelum dipublikasikan. Saya yakin itu dipublikasikan demi menghasilkan lalulintas daring, di mana itu mungkin pernah berhasil. Saya tidak bilang lalulintas daring tidak penting, tapi dalam jangka panjang episode seperti ini menimbulkan kerugian tak terhitung bagi reputasi suratkabar.

Terbuka untuk bisnis?

Dengan runtuhnya standar, timbul perkembangan paling seram. Sudah lama menjadi aksioma dalam jurnalisme Inggris bermutu bahwa departemen periklanan dan editorial harus tetap dipisah ketat. Ada banyak bukti bahwa, di Telegraph, pembedaan ini telah runtuh.

Akhir tahun lalu saya mulai mengerjakan artikel tentang raksasa perbankan internasional HSBC. Tokoh-tokoh Muslim Inggris menerima surat tanpa diduga-duga dari HSBC yang memberitahukan bahwa rekening mereka telah ditutup. Alasannya tidak disampaikan, dan ditegaskan bahwa tak ada kemungkinan banding. “Rasanya seperti [pasokan] air saya diputus,” kata salah seorang korban kepada saya.

Ketika saya mengajukannya untuk dipublikasikan di situs Telegraph, mulanya saya diberitahu tidak akan ada masalah. Ketika ternyata tidak dipublikasikan, saya lantas meminta informasi. Saya ditipu dengan berbagai dalih, lalu dikatakan ada masalah hukum. Saat ditanyakan kepada departemen hukum, para pengacara tidak tahu tentang adanya persoalan. Saat saya mendesak hal ini, seorang eksekutif membawa saya bicara berdua dan dia bilang “ada sedikit masalah” dengan HSBC. Akhirnya saya menyerah pasrah dan menawarkan artikel kepada openDemocracy. Dapat dibaca di sini.

Saya meneliti liputan HSBC mereka. Ternyata, Harri Wilson, koresponden perbankan Telegraph yang patut dikagumi, pernah mempublikasikan sebuah artikel daring perihal HSBC berdasarkan laporan dari seorang analis Hong Kong yang mengklaim terdapat “lubang hitam” pada rekening-rekening HSBC. Artikel ini cepat-cepat dihapus dari situs Telegraph, padahal tidak ada masalah hukum. Saat saya tanya HSBC apakah bank tersebut mengeluhkan artikel Wilson, atau berperan dalam keputusan penghapusannya, mereka menolak berkomentar. Cuitan-cuitan Tn. Wilson waktu itu berkenaan dengan artikel tersebut dapat ditemukan di sini. Artikelnya sendiri tidak lagi tersedia di situs, sebagaimana diketahui oleh siapapun yang mencoba mengikuti tautannya. Tn. Wilson agak berani mengangkat isu ini ke depan khalayak di “rapat balai kota” ketika Jason Seiken memperkenalkan diri kepada para staf. Sejak saat itu dia meninggalkan suratkabarnya.

Lalu, pada 4 November 2014, sejumlah koran memberitakan pukulan terhadap laba HSBC lantaran bank bersangkutan menyisihkan lebih dari £1 miliar untuk ganti rugi konsumen dan pengusutan rekayasa pasar mata uang. Artikel ini geger di Times, Guardian, dan Mail, menjadi halaman utama di Independent. Saya memeriksa liputan Telegraph. Mereka membuat lima paragraf di halaman 5 segmen bisnis.

Pemberitaan HSBC adalah bagian dari masalah lebih luas. 10 Mei tahun lalu Telegraph memuat artikel panjang tentang kapal Queen Mary II milik maskapai Cunard di halaman ulasan berita. Bagi banyak orang episode ini terlihat seperti promosi pengiklan di halaman yang normalnya untuk analisa berita serius. Lagi-lagi saya mengecek dan tentu saja para pesaing Telegraph tidak memandang kapal milik Cunard sebagai artikel berita utama. Cunard adalah pengiklan penting Telegraph.

Ulasan suratkabar ini perihal unjuk rasa tahun lalu di Hong Kong terbilang janggal. Orang mungkin mengira Telegraph, dari semua suratkabar yang ada, menaruh perhatian tajam dan mengambil posisi tegas. Tapi, kontras dengan para pesaing semisal Times, saya tak bisa temukan satupun tajuk rencana tentang persoalan ini.

Di awal Desember, Financial Times, Times, dan Guardian menulis tajuk rencana berpengaruh tentang penolakan pemerintah China untuk mengizinkan sebuah komite anggota parlemen Inggris masuk ke Hong Kong. Telegraph tetap bungkam. Saya rasa tak banyak subjek yang membuat marah dan prihatin para pembaca Telegraph sekarang ini.

Pada 15 September, Telegraph mempublikasikan ulasan dubes China, persis sebelum suplemen China Watch yang menguntungkan. Tajuk artikel sang dubes melebihi parodi: “Jangan biarkan Hong Kong menghalangi hubungan kita”. Pada 17 September terdapat suplemen busana empat halaman di tengah-tengah peredaran berita, dihadiahi liputan lebih banyak daripada referendum Skotlandia. Cerita akuntansi palsu Tesco pada 23 September hanya diliput di segmen bisnis. Padahal itu menjadi berita heboh, mengisi multikolom dalam, dan masuk tajuk rencana di Mail. Bukan berarti Telegraph kekurangan liputan Tesco. Tesco yang menjanjikan £10 juta untuk memerangi kanker, mengintip bagian dalam jet milik Tesco senilai £35 juta, dan “menemui kucing yang telah tinggal di Tesco selama 4 tahun”, semua ini dianggap layak diberitakan.

Ada contoh-contoh mengusik lain, kebanyakan dikemukakan di majalah Private Eye, yang telah menjadi sumber informasi utama bagi para wartawan Telegraph yang ingin paham ada apa dengan suratkabar mereka. Tak ada jalan untuk menghindari kesan bahwa ada yang salah dengan pertimbangan berita Telegraph. Pada titik ini saya menulis surat panjang kepada Murdoch MacLennan berisi semua keprihatinan saya perihal suratkabar tersebut, dan mengajukan pengunduran diri. Saya tembuskan surat ini kepada pemimpin Telegraph, Aidan Barclay.

Saya menerima balasan ala kadarnya dari Tn. Barclay. Dia menulis bahwa dirinya berharap saya dapat menyelesaikan perselisihan saya dengan Murdoch MacLennan. Saya pun pergi menemui sang kepala eksekutif pada pertengahan Desember. Dia sopan, menghidangkan teh, dan meminta saya melepas jaket. Dia bilang saya penulis bernilai, dan dia ingin saya bertahan.

Saya ungkapkan semua keprihatinan saya terhadap arah suratkabar. Saya katakan saya tidak pergi untuk bergabung dengan suratkabar lain. Saya mundur karena masalah nurani. Tn. MacLennan setuju iklan boleh mempengaruhi editorial, dia tidak merasa menyesal. Dia bilang “tidak seburuk itu” dan menambahkan bahwa hal seperti ini memiliki sejarah panjang di Telegraph.

Sejak saat itu saya berkonsultasi dengan Charles Moore, editor terakhir Telegraph sebelum Barclay Bersaudara membelinya pada 2004. Tn. Moore mengakui bahwa laporan keuangan Hollinger Inc, kala itu perusahaan induk Telegraph, belum diteliti sebagaimana mestinya. Tapi belum pernah ada dalam sejarah, sebuah suratkabar memberi keterangan tak baik tentang keuangan pemiliknya. Selain itu, kata Tn. Moore, tidak ada pengaruh iklan terhadap liputan berita suratkabarnya.

Setelah pertemuan dengan Tn. MacLennan, saya mendapat surat dari Telegraph. Isinya mengatakan suratkabar itu telah menerima surat pengunduran diri saya, tapi menyambut ajuan saya untuk mengisi jeda PHK 6 bulan. Namun pada pertengahan Januari saya diminta menemui seorang eksekutif Telegraph, kali ini sambil minum teh di Goring Hotel. Dia bilang kolom mingguan saya akan dihentikan dan sudah ada “perpisahan jalan”. (Notice period atau jeda PHK adalah jangka waktu antara tanggal pengunduran diri atau pemecatan dan hari terakhir kerja—penj.)

Tapi dia menekankan bahwa Telegraph akan terus menghormati kontrak saya sampai habis di bulan Mei. Saya sendiri menyatakan akan pergi tanpa gaduh. Saya tak berkeinginan merugikan suratkabar ini. Di tengah segala permasalahannya, Telegraph terus mempekerjakan banyak penulis unggul. Mereka punya hipotek dan keluarga. Mereka bekerja dengan baik dalam kondisi menyusahkan. Saya mempersiapkan diri secara mental untuk prospek cuti jeda PHK berbayaran selama beberapa bulan. (Gardening leave atau cuti jeda PHK adalah cuti sejak tanggal pengunduran diri/pemecatan sampai hari terakhir kerja seraya tetap digaji. Praktek ini diterapkan guna mencegah karyawan membawa informasi terbaru dan sensitif, khususnya bila mereka bergabung dengan perusahaan saingan. Ini lazim dalam perbankan dan keuangan di Inggris, Australia, dan Selandia Baru—penj.)

Artikel, artikel apa?

Demikianlah situasinya ketika Senin pekan lalu BBC Panorama memuat artikel tentang HSBC dan cabang banknya di Swiss, menduga keras ada skema penghindaran pajak skala luas, sedangkan Guardian dan International Consortium of Investigative Journalists mempublikasikan “arsip HSBC” mereka. Semua suratkabar serta-merta sadar ini peristiwa besar. FT menggembar-gemborkannya selama dua hari berturut-turut, sementara Times dan Mail memberinya multikolom liputan beberapa halaman.

Anda perlu mikroskop untuk menemukan liputan Telegraph: tak ada apa-apa pada hari Senin, enam paragraf ramping di kiri bawah halaman dua pada hari Selasa, enam paragraf jauh di dalam halaman bisnis pada hari Rabu. Pemberitaan Telegraph hanya membaik ketika cerita ini berubah menjadi klaim bahwa terdapat keraguan tentang urusan pajak orang-orang yang terhubung dengan partai Buruh.

Setelah banyak bersusah-payah, saya sampai pada kesimpulan bahwa saya punya kewajiban untuk menyampaikan semua ini kepada khalayak. Ada dua alasan kuat. Pertama menyangkut masa depan Telegraph di bawah Barclay Bersaudara. Mungkin kedengarannya muluk, tapi saya percaya suratkabar adalah bagian dari arsitektur warga Inggris. Itu adalah suara konservatisme beradab dan skeptis yang paling penting.

Para pembaca Telegraph adalah orang-orang cerdas, berakal, berwawasan. Mereka beli koran tersebut karena merasa dapat mempercayainya. Jika prioritas periklanan dibiarkan menentukan pertimbangan editorial, bagaimana bisa pembaca terus merasakan kepercayaan ini? Liputan Telegraph baru-baru ini soal BBC sama saja dengan penipuan terhadap pembacanya. Ia telah menempatkan apa yang dianggapnya kepentingan bank internasional besar di atas kewajibannya untuk membawa kabar kepada pembaca Telegraph. Hanya ada satu kata untuk melukiskan situasi ini: mengerikan. Bayangkan kalau BBC—begitu sering menjadi objek serangan Telegraph—berkelakuan seperti ini. Telegraph pasti akan merendahkan. Ia pasti akan mendesak agar ada yang dihukum, dan sepantasnya demikian.

Ini membawa saya ke poin kedua yang lebih penting, yang berkaitan bukan saja dengan nasib satu suratkabar tapi dengan kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Pers bebas adalah esensial bagi demokrasi yang sehat. Jurnalisme memiliki tujuan, dan itu bukan sekadar untuk menghibur. Bukan untuk menjadi kakitangan kekuatan politik, korporasi besar, dan orang kaya. Suratkabar pada akhirnya mempunyai kewajiban konstitusional untuk memberitahukan kebenaran kepada para pembacanya.

Bukan hanya Telegraph yang bersalah di sini. Beberapa tahun terakhir kita menyaksikan naiknya eksekutif samar yang menentukan fakta mana saja yang boleh dan tidak boleh disampaikan di media mainstream. Kriminalitas koran-koran News International selama tahun-tahun peretasan telepon adalah contoh fantastis fenomena berbahaya ini. Semua kelompok suratkabar, kecuali Guardian, memelihara budaya bungkam omertà seputar peretasan telepon, sekalipun (seperti Telegraph) mereka sendiri tidak terlibat. Salah satu konsekuensi dari konspirasi kebungkaman ini adalah penunjukan Andy Coulson, yang telah dipenjara dan kini menghadapi tuntutan sumpah palsu, sebagai direktur komunikasi di Downing Street 10.

Pertanyaan urgen untuk dijawab

Pekan lalu saya mendapat penemuan lain. Tiga tahun silam tim investigasi Telegraph—rombongan yang sama yang melakukan investigasi hebat terhadap pengeluaran anggota parlemen—mendapat info tentang rekening-rekening di HSBC Jersey. Sejatinya investigasi ini serupa dengan investigasi Panorama terhadap cabang bank HSBC di Swiss. Setelah riset tiga bulan, Telegraph memutuskan untuk mempublikasikan. Enam artikel tentang subjek ini kini dapat ditemukan di internet, antara 8 s/d 15 November 2012, walaupun tiga di antaranya tidak tersedia untuk dibuka.

Sesudah itu tidak muncul laporan-laporan baru. Para wartawan diperintahkan untuk memusnahkan semua surel, laporan, dan dokumen terkait investigasi HSBC. Sekarang saya tahu bahwa, dalam penyimpangan luar biasa dari praktek normal, pada tahap ini para pengacara Barclay bersaudara ikut tersangkut. Saat saya tanya Telegraph kenapa Barclay bersaudara jadi tersangkut, mereka menolak berkomentar.

Ini momen amat penting. Sejak permulaan 2013, artikel-artikel yang kritis terhadap HSBC diciutkan. HSBC menangguhkan iklannya di Telegraph. Akunnya, ungkap satu orang dalam yang tahu seluk-beluk, sangat bernilai. HSBC, kata seorang mantan eksekutif Telegraph, adalah “pengiklan yang betul-betul tak boleh kau sakiti”. Hari ini HSBC menolak berkomentar ketika saya tanyakan apakah keputusan bank tersebut untuk berhenti beriklan di Telegraph terkait dengan investigasinya terhadap rekening-rekening di Jersey.

Memenangkan kembali akun iklan HSBC menjadi prioritas urgen. Akhirnya itu dipulihkan setelah kira-kira 12 bulan. Kata para eksekutif, Murdoch MacLennan bertekad untuk tidak memperbolehkan kritik apapun terhadap bank internasional itu. “Dia mengungkapkan keprihatinan terhadap tajuk-tajuk tentang cerita remeh sekalipun,” kata mantan jurnalis Telegraph. “Apapun yang menyinggung pencucian uang dilarang, sekalipun bank tersebut mendapat peringatan akhir dari pihak berwenang AS. Campurtangan ini berlangsung pada skala industri. Operasi editorial yang jelas-jelas dipengaruhi iklan merupakan penenteraman klasik. Sekali sebuah lembaga berkuasa tahu bahwa mereka dapat memberi pengaruh, mereka sadar bisa datang kembali dan mengancammu. Itu mengubah secara total hubunganmu dengan mereka. Kau tahu, sekalipun kau tegas, kau takkan didukung dan akan diruntuhkan.”

Saat saya mengirim pertanyaan rinci kepada Telegraph siang ini perihal koneksinya dengan pengiklan, koran tersebut memberi jawaban berikut. “Pertanyaan Anda penuh dengan ketidakakuratan, dan karenanya kami tak bermaksud menanggapi. Secara lebih umum, seperti banyak bisnis lain, kami tak pernah mengomentari hubungan niaga individu, tapi kebijakan kami jelas. Kami ingin menyediakan sederet solusi periklanan bagi semua mitra niaga kami, tapi pembedaan antara periklanan dan operasi editorial kami yang meraih penghargaan selalu fundamental bagi bisnis kami. Kami sama sekali menyangkal tuduhan sebaliknya.”

Bukti mengindikasikan sebaliknya, dan konsekuensi dari peliputan lunak HSBC oleh Telegraph baru-baru ini mungkin sangat besar. Apakah Her Majesty’s Revenue and Customs akan jauh lebih bersemangat dalam penyelidikan terbaru terhadap penghindaran pajak skala luas andai Telegraph menganggap HSBC bertanggungjawab pasca investigasi 2012-nya? Ada isu besar di sini. Itu menyentuh jantung demokrasi kita, dan tak bisa lagi diabaikan.

Tentang Penulis
Peter Oborne adalah mantan kepala pengulas politik di Telegraph dan kini wartawan untuk Dispatches dan Unreported World-nya Channel 4. Dia telah menulis sejumlah buku yang mengidentifikasi struktur-struktur kekuasaan yang bersembunyi di balik diskursus politik, termasuk The Triumph of the Political Class. Dia adalah pengisi tetap dalam acara BBC, Any Questions dan Question Time, dan sering membawakan Week in Westminster. Dia dipilih sebagai Columnist of the Year di ajang Press Awards pada 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s